Selasa, 02 Februari 2016

Pengalaman Saya

Pengalaman saya ketika menyewa sepeda motor di Bali.
Pengalaman Saya

Pada beberapa bulan yang lalu, saya berlibur ke Bali bersama adik saya. Pada waktu itu saya menggunakan jasa penyewaan sepeda motor yang ada di Bali tepatnya kota Denpasar. Alasan kenapa saya lebih memilih untuk menyewa motor, karena saya pikir dengan menggunakan sepeda motor untuk menjelajahi Bali tentunya akan lebih efektif dan efisien. Biaya operasionalnya murah, tidak akan terjebak dalam kondisi macet   sehingga kita saya bisa lebih efisien waktu.
Namun apa yang saya alami tidak sesuai dengan harapan. Karena belum tahu jasa sewa sepeda motor mana yang bagus, jadi saya asal pilih saja. Awalnya saya lihat di internet sebuah penyedia jasa sewa sepeda motor kelihatannya bagus. Kemudian saya booking dan ternyata apa yang saya lihat di internet tidak sesuai dengan kenyataannya. Mulai dari pelayanannya yang kurang bagus, ada biaya tambahan juga untuk antar jemput kendaraannya, tarifnya juga mahal. Selain itu, kondisi kendaraan sudah buruk dengan fasilitas yang kurang memadai. Dan yang terburuk lagi pada hari kedua penyewaan, motor yang saya sewa itu mogok. Saya sangat merasa sangat kesal waktu itu.
Satu minggu yang lalu saya kembali ke Bali ada kepentingan dengan keluarga. Saat itu saya juga ingin menggunakan jasa sewa motor Bali. Pada awalnya saya sempat berpikir akan mengalami hal yang serupa dengan pengalaman ketika saya menyewa sepeda motor beberapa bulan yang lalu. Karena yang saya lihat bahwa di Bali banyak ada penyedia jasa sewa motor, tetapi tingkat pelayanan mereka kurang bagus dan kurang memuaskan. Tetapi ternyata pandangan saya berubah ketika saya menghubungi pihak penyewaan sepeda motor “Semeton Bali Motor”, salah satu pusat penyediaan jasa sewa sepeda motor di Bali. Saya sangat terkesan dengan pelayanannya. Cara mereka menyapa pelanggan sangat sopan dan lebih antosias. Aturan sewanya jelas, harga murah, kondisi kendaraan masih sangat bagus, fasilitas lengkap, pelayanan cepat, dan yang terpenting tidak ada biaya tambahan lagi untuk antar jemput kendaraan.
Jika suatu hari nanti anda ingin berlibur atau ada suatu kepentingan di Bali dan membutuhkan sarana transportasi yang efektif dan efisien maka pastikan anda menghubungi jasa sewa motor “Semeton Bali Motor”. Kunjungi blognya di semetonbali-motor.blogspot.co.id. Selamat mencoba!!!



Minggu, 31 Januari 2016

Sejarah Aksara Bali

Sejarah Aksara Bali



Sejarah aksara Bali erat kaitannya dengan perkembangan aksara India. Aksara Bali berasal dari bahasa dan aksara yang dibawa dari India ketika zaman penyebaran agama Hindu dan Buddha di negara Indonesia. Awalnya di India terdapat aksara yang disebut aksara Karosti. Dari aksara Karosti ini kemudian berkembang menjadi aksara Brahmi. Aksara Brahmi kemudian berkembang lagi menjadi aksara Devanagari dan aksara Pallawa. Aksara Devanagari  digunakan di India Utara dalam menulis bahasa Sansekerta. Sedangkan aksara Pallawa  digunakan di India Selatan dalam menulis bahasa Pallawa. Perkembangan aksara Devanagari  dan Pallawa di Indonesia mengikuti perkembangan agama Hindu dan Buddha. Perkembangan aksara Devanagari dan Pallawa  ini kemudian menghasilkan aksara Kawi  atau aksara Indonesia kuno. Dari aksara Kawi  ini kemudian lama-kelamaan berubah menjadi aksara Jawa, aksara Bali, dan aksara-aksara lainnya yang saat ini ada di Indonesia. Bukti peninggalan yang menunjukkan perkembangan ini salah satunya terdapat pada yupa yang bertuliskan aksara Devanagari di Kutai, Kalimantan Timur.
Bukti  perkembangan aksara Devanagari  dan Pallawa  di Bali dapat ditemukan di Pura Penataran Sasih Pejeng, Kecamatan Tampaksiring, Kabupaten Gianyar. Di pura ini terdapat stupa-stupa kecil yang berisi cap dari tanah legit. Cap-cap tersebut berisi tulisan dalam aksara Pradewanegari atau Siddhamatrka. Aksara tersebut digunakan untuk menulis mantra Buddha Tathagata. Bukti perkembangan berikutnya dapat ditemukan di Pura Blanjong Sanur. Di sana terdapat tugu peringatan raja Sri Kesari Warmadewa yang berisi tulisan dalam aksara Devanagari  dan aksara Bali kuno. Aksara Devanagari  digunakan untuk menuliskan bahasa Bali kuno, sedangkan aksara Bali kuno digunakan untuk menuliskan bahasa Sansekerta. Aksara berikutnya yang berkembang adalah aksara Pallawa. Terdapat tulisan aksara Pallawa  yang disebut aksara Semi Pallawa. Dari aksara Semi Pallawa tersebut kemudian berkembang bentuknya menjadi aksara Kediri Kwadrat, yang kemudian berubah menjadi aksara Jawa dan terakhir berubah lagi menjadi aksara Bali. Bukti penulisan dalam aksara Pallawa tersebut ada yang diletakkan di Pura Bale Agung Sembiran.
Bentuk aksara Bali yang seperti membulat merupakan contoh bentuk aksara Bali yang berasal dari aksara Pallawa. Contoh perkembangan aksara Bali dari aksara Devanagari adalah bentuk huruf akara dalam aksara Bali yang sangat mirip dengan bentuk huruf a dalam aksara Devanagari.
Sejarah aksara Bali di atas, saya rangkum dari buku ‘Pedoman Pasang Aksara Bali‘ oleh Dinas Kebudayaan Propinsi Bali yang sayangnya ditulis dalam bahasa Bali. Untuk mengetahui lebih jauh Anda bisa membaca sendiri buku tersebut.
Menurut website Omniglot, aksara Bali disebut juga dengan ‘Carakan‘. Dalam buku ‘Unicode Standard version 5.0‘ dinyatakan bahwa aksara Bali berasal dari aksara Brahmi purba dari India. Selain itu, buku tersebut juga menyebutkan bahwa aksara Bali memiliki banyak kemiripan dengan aksara-aksara modern di Asia Selatan dan Asia Tenggara yang berasal dari rumpun aksara yang sama. Aksara Bali pada abad ke-11 banyak memperoleh pengaruh dari bahasa Kawi atau Jawa kuno. Versi modifikasi aksara Bali ini digunakan juga untuk menuliskan bahasa Sasak yang digunakan di Pulau Lombok. Beberapa kata-kata dalam bahasa Bali meminjam dari bahasa Sansekerta  yang kemudian juga mempengaruhi aksara Bali. Tulisan Bali tradisional ditulis pada daun pohon siwalan  (sejenis palma), tumpukannya kemudian diikat dan disebut lontar.

 

Kamis, 28 Januari 2016

Pendidikan Muatan Lokal Mulai Hilang

Seiring kemajuan Teknologi dan Informasi, pembelajaran ilmu-ilmu lokal mulai tidak dilirik keberadaannya. generasi muda lebih memilih pembelajaran yang serba praktis, lebih mengikuti jaman dari pada mengasah keterampilan mereka dalam bidang kearifan lokar yang mengandung nilai tradisi dan budaya.